Sengketa Waris dalam Tanah Wakaf yang Belum Bersertifikat Ditinjau dari Perspektif Hukum Islam

Authors

  • Bobby Thyas Erlangga Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Dwi Harto Hanggono Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Dyva Rahmalia Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Meilia Peranginangin Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Novan Noviar Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Syamhudian Noor Universitas Palangkaraya, Indonesia

Keywords:

Waqf; Waqf Land; Heirs; Islamic Law

Abstract

Waqf is an instrument of Islamic law that serves both social and religious functions and is intended to provide sustainable benefits to society. In practice, however, the administration of land waqf continues to face various challenges, particularly when waqf land has not been formally certified or supported by adequate administrative documentation. This situation may give rise to disputes after the waqif dies, especially when the heirs contest or attempt to reclaim land that has previously been endowed as waqf. Such disputes may become more complex when the waqf pledge is not supported by sufficient documentary evidence and physical control of the land remains with the waqif’s family. This study aims to analyze the legal status of land that has been endowed as waqf but remains uncertified, as well as the settlement of inheritance disputes involving waqf land from the perspective of Islamic law. This research employs a normative legal method using conceptual and statutory approaches. The findings indicate that, under Islamic law, once a waqf has been validly established in accordance with its pillars and requirements, the endowed property is, in principle, no longer part of the waqif’s personal estate and therefore cannot constitute an object of inheritance. The absence of a waqf certificate does not automatically invalidate the waqf; however, it may create evidentiary difficulties and increase the risk of future disputes. Therefore, the formal registration and certification of waqf land are essential to ensuring legal certainty, safeguarding waqf assets, and preventing future claims by heirs.

Wakaf merupakan salah satu instrumen dalam hukum Islam yang memiliki fungsi sosial dan keagamaan serta bertujuan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan wakaf tanah masih menghadapi berbagai permasalahan, khususnya ketika tanah wakaf belum memiliki sertifikat resmi atau belum didukung oleh dokumen administrasi yang memadai. Kondisi tersebut dapat menimbulkan sengketa setelah wakif meninggal dunia, terutama ketika ahli waris mempersoalkan atau berupaya mengambil kembali tanah yang sebelumnya telah diwakafkan. Permasalahan dapat menjadi semakin kompleks apabila ikrar wakaf tidak didukung oleh bukti dokumenter yang memadai, sementara penguasaan fisik atas tanah masih berada pada keluarga wakif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hukum tanah yang telah diwakafkan tetapi belum bersertifikat serta penyelesaian sengketa waris atas tanah wakaf ditinjau dari perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif hukum Islam, apabila wakaf telah dilaksanakan secara sah sesuai dengan rukun dan syarat wakaf, maka harta yang telah diwakafkan pada prinsipnya telah keluar dari kepemilikan pribadi wakif dan tidak lagi menjadi objek warisan. Ketiadaan sertifikat wakaf tidak serta-merta membatalkan keabsahan wakaf, tetapi dapat menimbulkan persoalan pembuktian dan meningkatkan risiko terjadinya sengketa. Oleh karena itu, pencatatan dan sertifikasi tanah wakaf merupakan langkah penting untuk memberikan kepastian hukum, melindungi harta benda wakaf, serta mencegah klaim dari ahli waris di kemudian hari.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Anshori, H., Syamsudin, M., Triyanta, A., Ramadhita, R., Bachri, S., & Alotaibi, H. A. (2025). Clarifying heirs’ rights in Indonesian waqf law: Toward stronger governance and conflict prevention. Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah dan Masyarakat, 25(2), 529–553. doi:10.19109/nurani.v25i2.30356

Badan Wakaf Indonesia. (n.d.). Pengertian wakaf. Jakarta: Badan Wakaf Indonesia.

Badan Wakaf Indonesia. (2026a, August 28). Ancaman sengketa mengintai 215 ribu tanah wakaf, BWI desak percepatan sertifikasi dan mitigasi aset. Jakarta: Badan Wakaf Indonesia.

Badan Wakaf Indonesia. (2026b, September 11). Riset untuk wakaf yang lebih berdampak. Jakarta: Badan Wakaf Indonesia.

Hamzah, Tarmizi, Irfan, A., Jamaluddin, T., & Makkarateng, M. Y. (2026). Testing the justice of maslahah: A critique of the Makassar Religious Court’s ruling in a waqf dispute. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 26(1), 119–144. doi:10.18326/ijtihad.v26i1.119-144

Haq, A. F., et al. (1990). Hukum wakaf dan perwakafan di Indonesia. Surabaya: GBI.

Itang, & Syakhabyatin, I. (2017). Sejarah wakaf di Indonesia. Tazkiya: Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan, 18(2), 220–237.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025, September 24). 10 ribu tanah wakaf tersertifikasi di triwulan tiga 2025, apa peran Kemenag? Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2026, April 21). Sertifikasi wakaf, 287 ribu bidang tanah umat terlindungi hukum. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2017). Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah Wakaf di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Jakarta: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

Komariah, U. (2014). Penyelesaian sengketa wakaf di Pengadilan Agama. Jurnal Hukum dan Peradilan, 3(2), 117–126. doi:10.25216/jhp.3.2.2014.117-126

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana.

Mertokusumo, S. (2007). Mengenal hukum: Suatu pengantar. Yogyakarta: Liberty.

Mujahidin, A. (2021). Hukum wakaf di Indonesia dan proses penanganan sengketanya. Jakarta: Kencana.

Nader, L., & Todd, H. F. (Eds.). (1978). The disputing process: Law in ten societies. New York, NY: Columbia University Press.

Pradana, S., Holijah, & Afriansyah, S. (2025). Reconstruction of holistic benefits in resolution of wakf land disputes in Palembang. Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah dan Masyarakat, 25(2), 620–638. doi:10.19109/nurani.v25i2.27754

Pruitt, D. G., & Rubin, J. Z. (2004). Teori konflik sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Qahaf, M. (2005). Manajemen wakaf produktif. Jakarta: Khalifa.

Qal’ah Jay, M. R. (1989). Mausu’ah fiqh Umar ibn al-Khattab. Beirut, Lebanon: Dar al-Nafais.

Republik Indonesia. (1960). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (1977). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (1989). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2001). Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2006). Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Jakarta: Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Jakarta: Republik Indonesia.

Sabiq, S. (1994). Fiqh al-Sunnah. Beirut, Lebanon: Dar al-Fikr.

Salim, A. (2001). Teori dan paradigma penelitian sosial: Pemikiran Norman K. Denzin dan Egon Guba, dan penerapannya. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Santoso, U. (2005). Hukum agraria dan hak-hak atas tanah. Jakarta: Prenada Media.

Soekanto, S., & Mamudji, S. (2013). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Downloads

Published

02-10-2026

How to Cite

Erlangga, B. T. ., Hanggono, D. H. ., Rahmalia, D. ., Peranginangin, M. ., Noviar, N. ., & Noor, . S. . (2026). Sengketa Waris dalam Tanah Wakaf yang Belum Bersertifikat Ditinjau dari Perspektif Hukum Islam. Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial, 24(2). Retrieved from https://www.jurnaldialektika.com/index.php/piani/article/view/1207