Kedudukan Ahli Waris Beda Agama dalam Hukum Waris Islam Indonesia: Analisis terhadap Penerapan Wasiat Wajibah

Authors

  • Alda Paramita Azhara Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Amanda Nabila Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Dion Bennallin Djaper Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Krisnoadi Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Tirto Aprililius Universitas Palangkaraya, Indonesia
  • Syamhudian Noor Universitas Palangkaraya, Indonesia

Keywords:

Interfaith Inheritance; Ratio Decidendi; Wasiat Wajibah

Abstract

Religious differences within families create legal uncertainty regarding the entitlement of non-Muslim relatives to the estate of a Muslim decedent because the Compilation of Islamic Law does not explicitly regulate the granting of wasiat wajibah to them. This study aims to analyze the legal status of heirs of different religions and compare the consistency of the ratio decidendi in Supreme Court Decision No. 368 K/Ag/1995, Decision No. 16 K/AG/2010, and Decision No. 721 K/Ag/2015. The study employs legal certainty theory, legal discovery theory, and maqāṣid al-sharīʿah. This normative legal research applies statutory, case, and conceptual approaches; legal materials were collected through library research, selected purposively, and analyzed using qualitative-descriptive methods through legal interpretation, comparative legal analysis, and deductive reasoning. The findings show that religious differences remain a legal impediment to heir status, yet non-Muslim relatives may obtain protection of their civil rights through wasiat wajibah. The three decisions consistently provide such protection but differ in recipient categories, legal considerations, and the proportion of the estate awarded; these differences indicate case-based judicial reasoning that requires uniform guidelines to ensure legal certainty and substantive justice.

Perbedaan agama dalam keluarga menimbulkan ketidakpastian mengenai kedudukan kerabat non-Muslim atas harta peninggalan pewaris Muslim karena Kompilasi Hukum Islam belum mengatur pemberian wasiat wajibah kepada mereka secara eksplisit. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan ahli waris beda agama dan membandingkan konsistensi ratio decidendi Putusan Mahkamah Agung Nomor 368 K/Ag/1995, Nomor 16 K/AG/2010, dan Nomor 721 K/Ag/2015. Kajian menggunakan teori kepastian hukum, penemuan hukum, dan maqāṣid al-sharīʿah. Penelitian hukum normatif ini menerapkan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual; bahan hukum dikumpulkan melalui studi kepustakaan, dipilih secara purposif, kemudian dianalisis secara kualitatif-deskriptif melalui interpretasi, perbandingan hukum, dan penalaran deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan agama tetap menghalangi status ahli waris, tetapi kerabat non-Muslim dapat memperoleh perlindungan hak keperdataan melalui wasiat wajibah. Ketiga putusan konsisten dalam memberikan perlindungan tersebut, tetapi berbeda dalam kategori penerima, dasar pertimbangan, dan besaran bagian; perbedaan ini menunjukkan penalaran kasuistik yang memerlukan pedoman yang seragam demi kepastian hukum dan keadilan substantif. 

 



Downloads

Download data is not yet available.

References

Alexy, R. (2015). Legal certainty and correctness. Ratio Juris, 28(4), 441–451. https://doi.org/10.1111/raju.12096

Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as philosophy of Islamic law: A systems approach. London, England: International Institute of Islamic Thought.

Budiman, A., Saifullah, M., & Ulum, B. (2024). Wājibah will for non-Muslim heirs in Indonesia: A legal political perspective based on justice and welfare. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 24(2), 223–250. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v24i2.223-250

Dewanty, I. D. A. (2015). Dasar pertimbangan hakim dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 16/K/AG/2010 pada kasus waris berbeda agama berdasarkan Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam. Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/314181

Fawzi, R., Rojak, E. A., Mujahid, I., & Sahid, M. M. (2024). Legal discovery method for non-Muslim heirs as recipients of wasiat wajibah. Jurnal Hukum Islam, 22(1), 161–188. https://doi.org/10.28918/jhi.v22i1_6

Hakim, M. L. (2024). Between hibah and waṣiat wājibah for non-Muslims: Expansive legal interpretations by Indonesian religious judges in inheritance cases. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 17(2), 147–166. https://doi.org/10.14421/ahwal.2024.17201

Hakim, M. L., & Nasution, K. (2023). Accommodating non-Muslim rights: Legal arguments and legal principles in the Islamic jurisprudence of the Indonesian Supreme Court in the post-New Order era. Oxford Journal of Law and Religion, 11(2–3), 288–313. https://doi.org/10.1093/ojlr/rwad004

Hasibuan, B. H. (2022). Pembagian harta waris beda agama menurut hukum Islam, hukum perdata dan hukum adat. Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan, 8(1), 1–13. https://doi.org/10.24952/almaqasid.v8i1.5550

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (1998). Putusan Nomor 368 K/Ag/1995. https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/yurisprudensi-tahun-2018/download/dokumen

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2010). Putusan Nomor 16 K/AG/2010 tentang hak waris istri yang berlainan agama dengan suami. https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/16-kag2010/detail

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2015). Putusan Nomor 721 K/Ag/2015. https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/yurisprudensi-tahun-2018/download/dokumen

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2018). Yurisprudensi Nomor 1/Yur/Ag/2018: Wasiat wajibah. https://putusan3.mahkamahagung.go.id/yurisprudensi/detail/11eadf086b586f509ef9323230333034.html

Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2026). Laporan tahunan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 2025. Jakarta, Indonesia: Mahkamah Agung Republik Indonesia. https://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id/id/publikasi/laporan-tahunan/2875-laporan-tahunan-mahkamah-agung-tahun-2025

Majelis Ulama Indonesia. (2005). Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 5/MUNAS VII/MUI/9/2005 tentang kewarisan beda agama. https://www.mui.or.id/public/storage/fatwa/98895fe02be474885c6112e2f94c09c8-lampiran.pdf

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi, Cet. ke-13). Jakarta, Indonesia: Kencana.

Mertokusumo, S. (2007). Penemuan hukum: Sebuah pengantar. Yogyakarta, Indonesia: Liberty.

Mutmainnah, I., & Sabir, M. (2019). Wasiat wajibah bagi ahli waris beda agama (Analisis terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 368 K/AG/1995). DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum, 17(2), 188–210. https://doi.org/10.35905/diktum.v17i2.818

Nasution, J. A. (2022). Analisis Putusan Mahkamah Agung Nomor 16.K/AG/2010 tentang hak waris istri yang berlainan agama dengan suami (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau). http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/59887

Radbruch, G. (2006). Statutory lawlessness and supra-statutory law (1946) (B. Litschewski Paulson & S. L. Paulson, Trans.). Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 1–11. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi041

Republik Indonesia. (1847). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor Indonesië) (Staatsblad 1847 Nomor 23). https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/kitab-undang-undang-hukum-perdata/detail

Republik Indonesia. (1989). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3400). https://peraturan.bpk.go.id/Details/46804/uu-no-7-

Republik Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. https://peraturan.bpk.go.id/Details/293351/inpres-no-1-tahun-1991

Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4611). https://peraturan.bpk.go.id/Details/40154/uu-no-3-tahun-2006

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 159, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5078). https://peraturan.bpk.go.id/Details/38795/uu-no-50-tahun-2009

Riyanta, Najib, A. M., Bahiej, A., & Falah, M. B. (2025). Toward interfaith equality in Islamic inheritance law: Discourse and renewal of judicial practice in Indonesia. Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 19(1), 1–16. https://doi.org/10.24090/mnh.v19i1.10762

Rohana, N. P. (2021). Wasiat wajibah dalam perspektif hukum di Indonesia. Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi, 7(1), 139–155. https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v7i1.4015

Setiawan, E. (2017). Penerapan wasiat wajibah menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam kajian normatif yuridis. Muslim Heritage, 2(1), 43–62. https://doi.org/10.21154/muslimheritage.v2i1.1045

Sinambela, N. M. (2024, August 7). Dukcapil: Jumlah penduduk RI tembus 282 juta jiwa di semester I-2024. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/4244907/dukcapil-jumlah-penduduk-ri-tembus-282-juta-jiwa-di-semester-i-2024

Downloads

Published

04-10-2026

How to Cite

Azhara, A. P. ., Nabila, A. ., Djaper, D. B. ., Krisnoadi, Aprililius, T. ., & Noor, S. . (2026). Kedudukan Ahli Waris Beda Agama dalam Hukum Waris Islam Indonesia: Analisis terhadap Penerapan Wasiat Wajibah. Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial, 24(2). Retrieved from https://www.jurnaldialektika.com/index.php/piani/article/view/1209